Main menu

Pemantauan Re-entry Tiangong-1

Final report (2 April 2018, 08:20 WIB)

Tiangong-1 dinyatakan jatuh di Samudera Pasifik pada hari ini 2 April 2018 sekitar pukul 07:16 WIB. 

Prakiraan lintasan terakhir Tiangong-1 pada 2 April 2018 mulai pukul 07:05 hingga 07:20 WIB. Tanda panah menunjukkan prakiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

KesimpulanIndonesia aman dari kejatuhan Tiangong-1.

 

Update (2 April 2018, 00:50 WIB)

Dengan data terbaru diprakirakan bahwa lintasan terakhir Tiangong-1 akan melewati Samudera Atlantik, Afrika, Asia, dan berakhir di Samudera Pasifik seperti terlihat pada peta berikut ini.

Prakiraan lintasan terakhir Tiangong-1 pada 2 April 2018 mulai pukul 07:37 hingga 08:57 WIB. Tanda panah menunjukkan prakiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Lintasan terakhir Tiangong-1 diprakirakan tidak akan melewati Indonesia.

Klik menu Informasi Umum untuk mengetahui hal-hal mendasar tentang benda jatuh antariksa termasuk potensi bahayanya bagi kita. Gunakan laman khusus pemantauan Tiangong-1 untuk memantaunya setiap saat.

Menjelang jatuhnya dalam sebulan terakhir, Tiangong-1 mengalami penurunan ketinggian rata-rata sebesar 3.2 km/hari. Jika ketinggiannnya mencapai 120 km maka ia dianggap mengalami atmospheric reentry sehingga secara cepat akan jatuh menuju permukaan bumi. 


Perubahan ketinggian Tiangong-1 sejak awal tahun 2015 (kiri) dan sejak 1 Maret 2018 (kanan).

Panas dan tekanan yang dialami setelah reentry akan mengakibatkan Tiangong-1 pecah dan serpihannya (jika tidak habis terbakar) akan menyebar pada area yang panjangnya bisa mencapai ribuan kilometer dengan lebar puluhan kilometer di permukaan bumi.

Ilustrasi area penyebaran serpihan hasil reentry Tiangong-1. Sumber: Aerospace Corp.

Kesimpulan sementara: Indonesia aman dari kejatuhan Tiangong-1

 

Update (1 April 2018, 20:50 WIB)

Dengan data terbaru diprediksi waktu jatuh Tiangong-1 adalah pada 2 April 2018 pukul 07:47 WIB +/- 3 jam. Ada pergeseran prakiraan titik jatuh, semula di Pasifik bergeser ke Atlantik. Ada kemungkinan pergeseran  lagi, tetapi diprakirakan di luar wilayah Indonesia.

Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 07:47 WIB +/- 3 jam. Tanda panah menunjukkan prakiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 1 jam Tanda panah menunjukkan prakiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Lintasan terakhir Tiangong-1 diperkirakan tidak akan melewati Indonesia.

Klik menu Pemantauan Reatime untuk mengetahui apakah Tiangong-1 akan, sedang, atau baru saja melintasi Indonesia. Klik menu Informasi Umum untuk mengetahui hal-hal mendasar tentang benda jatuh antariksa  termasuk potensi bahayanya bagi kita. 

Laman khusus yang selalu menampilkan proyeksi lintasan Tiangong-1 di permukaan bumi juga telah tersedia. Lewat laman ini, stasiun tersebut bisa selalu dipantau kondisinya walaupun jatuhnya tidak di atas wilayah Indonesia.

Lintasan Tiangong-1 setelah melewati Indonesia di ketinggian kurang dari 150 km hari ini seperti yang tampil di laman khusus pemantauan stasiun tersebut.

Kesimpulan sementara: Indonesia aman dari kejatuhan Tiangong-1

 

Update (1 April 2018, 12:40 WIB)

Dengan data terbaru diprediksi waktu jatuh Tiangong-1 adalah pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 15 menit. Stasiun ini diperkirakan akan mengalami reentry di Samudera Pasifik bagian selatan. 

Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 15 menit Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Klik menu Pemantauan Reatime untuk mengetahui apakah Tiangong-1 akan, sedang, atau baru saja melintasi Indonesia. Klik menu Informasi Umum untuk mengetahui hal-hal mendasar tentang benda jatuh antariksa  termasuk potensi bahayanya bagi kita. 

Laman khusus yang selalu menampilkan proyeksi lintasan Tiangong-1 di permukaan bumi juga telah tersedia. Lewat laman ini, stasiun tersebut bisa selalu dipantau kondisinya walaupun jatuhnya tidak di atas wilayah Indonesia.

Kesimpulan sementara: Indonesia aman dari kejatuhan Tiangong-1. Stasiun ini diperkirakan akan jatuh di selatan Samudera Pasifik pada 2 April 2018 sekitar pukul 07:15 WIB.

 

Update (1 April 2018, 07:20 WIB)

Dengan data terbaru diprediksi waktu jatuh Tiangong-1 adalah pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 6 jam. 

Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 6 jam Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 1 jam Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Lintasan terakhir Tiangong-1 diperkirakan tidak akan melewati Indonesia.

Klik menu Pemantauan Reatime untuk mengetahui apakah Tiangong-1 akan, sedang, atau baru saja melintasi Indonesia. Klik menu Informasi Umum untuk mengetahui hal-hal mendasar tentang benda jatuh antariksa  termasuk potensi bahayanya bagi kita. 

Laman khusus yang selalu menampilkan proyeksi lintasan Tiangong-1 di permukaan bumi juga telah tersedia. Lewat laman ini, stasiun tersebut bisa selalu dipantau kondisinya walaupun jatuhnya tidak di atas wilayah Indonesia.

Kesimpulan sementara: Indonesia aman dari kejatuhan Tiangong-1

 

Update (31 Maret 2018, 06:30 WIB)

Dengan data terbaru diprediksi waktu jatuh Tiangong-1 adalah pada 2 April 2018 pukul 04:29 WIB +/- 10 jam. Dengan rentang ketidakpastian sebesar ini, stasiun tersebut masih mungkin jatuh di daerah mana saja di antara lintang 43o LU hingga 43o LS. Saat ini masih terlalu dini untuk memprediksi lokasi atmospheric reentry secara lebih akurat. 

Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 04:29 WIB +/- 10 jam. Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Perkiraan lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 sejak pukul 03:29 hingga 05:29 WIB. Titik kuning menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track.  

Waktu prakiraan jatuhnya Tiangong-1 bergeser hampir 1 hari lebih lama dibanding yang sebelumnya dberitakan di situs web ini. Perubahan kondisi lingkungan antariksa yang terkait dengan aktiviitas matahari dan geomagnet diyakini melatarbelakangi pergeseran waktu tersebut. 

Klik menu Pemantauan Reatime untuk mengetahui apakah Tiangong-1 akan, sedang, atau baru saja melintasi Indonesia. Klik menu Informasi Umum untuk mengetahui hal-hal mendasar tentang benda jatuh antariksa  termasuk potensi bahayanya bagi kita. 

Laman khusus yang selalu menampilkan proyeksi lintasan Tiangong-1 di permukaan bumi juga telah tersedia. Di laman ini, lintasan stasiun tersebut akan selalu ditampilkan kendati tidak berada di sekitar Indonesia. Dibandingkan laman pemantauan yang selama ini beroperasi, laman baru ini diharapkan bisa memberikan informasi yang lebih akurat dengan antarmuka yang lebih ramah pengguna. 

Kesimpulan sementara: Indonesia belum aman dari kejatuhan Tiangong-1

 

Update (29 Maret 2018,  16:15 WIB)

Dengan data terbaru diprediksi waktu jatuh Tiangong-1 adalah pada 1 April 2018 pukul 07:52 WIB +/- 15 jam. Dengan rentang ketidakpastian sebesar ini, stasiun tersebut masih mungkin jatuh di daerah mana saja di antara lintang 43 LU hingga 43 LS. Saat ini masih terlalu dini untuk memprediksi lokasi atmospheric reentry secara lebih akurat. 

 

Prakiraan lintasan Tiangong-1 pada 1 April 2018 pukul 07:22 hingga 08:22 WIB. Titik kuning menunjukkan prakiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

Misi utama stasiun ruang angkasa yang dibuat dan diluncurkan oleh Tiongkok ini adalah untuk pengujian dan penguasaan teknologi rendezvous dan docking. Docking pertama berhasil dilakukan dengan wahana tanpa awak Shenzhou pada 2 November 2011. Berikutnya 2 kali docking juga berhasil dilakukan saat Shenzhou 9 dan Shenzhou 10 mengunjungi Tiangong-1 berturut-turut pada tahun 2012 dan 2013. Shenzhou 9 diawaki oleh 3 taikonot demikian juga Shenzhou 10.

Salah satu bagian dari roket Long March 2F yang meluncurkan Shenzhou 10 yakni CZ-2F R/B jatuh pada 22 Juni 2013 di Samudera Atlantik. LAPAN juga memantau jatuhnya

Klik menu Pemantauan Reatime untuk mengetahui apakah Tiangong-1 akan, sedang, atau baru saja melintasi Indonesia. Klik menu Informasi Umum untuk mengetahui hal-hal mendasar tentang benda jatuh antariksa  termasuk potensi bahayanya bagi kita. 

Kesimpulan sementara: Indonesia belum aman dari kejatuhan Tiangong-1

Tautan:

Pemantauan jatuhnya CZ-2F R/B oleh LAPAN

Bahaya benda jatuh antariksa

 

Update (28 Maret 2018,  23:10 WIB)

Dengan data terbaru diprediksi waktu jatuh Tiangong-1 adalah pada 1 April 2018 pukul 08:57 WIB +/- 19 jam. Saat ini masih terlalu dini untuk memprediksi lokasi atmospheric reentry secara lebih akurat. 

 

Prakiraan lintasan Tiangong-1 pada 1 April 2018 pukul 08:27 hingga 09:27 WIB. Titik kuning menunjukkan prakiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan bumi. Sumber data: Space-track. 

 

Snapshot jendela pemantauan website ini pada hari ini pukul 23:07 WiB yang memuat lintasan Tiangong-1 (benda nomor 3) saat akan melintasi Indonesia. 

 

Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh pemerintah Tiongkok kepada PBB pada Desember 2017, Tiangong-1 menggunakan methylhydrazine dan dinitrogen tetroxide untuk bahan bakarnya. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis, sisa bahan bakar (dalam jumlah yang tidak banyak lagi) akan terbakar dan musnah bersama dengan bagian-bagian stasiun dalam proses reentry-nya. 

Kendati kemungkinan ada bagian stasiun yang masih tersisa dan sampai ke permukaan bumi kecil, masyarakat perlu tetap waspada. Jika menduga telah menemukan bagian tersebut maka segeralah menghubungi kepolisian terdekat yang jika perlu bisa menghubungi LAPAN dan instansi terkait lainnya. Masyarakat yang merasa melihat peristiwa reentry-nya di langit bisa menghubungi Pusat Sains Antariksa LAPAN.

Klik menu Pemantauan Reatime untuk mengetahui apakah Tiangong-1 akan, sedang, atau baru saja melintasi Indonesia.

Kesimpulan sementara: Indonesia belum dapat dinyatakan aman dari kejatuhan Tiangong-1.

Tautan:

Situs web China Manned Space Engineering Programme (www.cmse.gov.cn)

 

Berita baru (12 Maret 2018)

Pada tanggal 4 Mei 2017, Cina menyampaikan kepada Komite PBB untuk penggunaan aktivitas antariksa secara damai (United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space – UNCOPUOS) mengenai Laboratorium antariksa mereka bernama Tiangong-1 yang akan mengalami re-entry (masuk kembali ke atmosfer Bumi). Tiangong-1 dilaporkan oleh otoritas antariksa Cina telah mengalami kerusakan dan tidak dapat dikontrol lagi sejak 16 Maret 2016. Tiangong-1 yang juga merupakan stasiun luar angkasa pertama milik Cina, dalam masa operasionalnya telah memberikan kontribusi penelitian antariksa bagi Cina sejak pertama kali diluncurkan pada 30 September 2011 dari Jiuquan Satellite Launch Center, Cina. Tiangong-1. 

Gambar 1. Ilustrasi Stasiun Ruang Angkasa Cina, Tiangong-1 (sumber: Reuters)

 

Deskripsi dari satelit Tiangong-1 dapat dilihat pada tabel berikut:

Type:

Payload

Kode Internasional:

2011-053A

No. Katalog NORAD:

37820

Waktu Peluncuran:

2011 September 30 @ 03:16:03.507 UTC

Tempat Peluncuran:

Jiuquan Satellite Launch Center, China

Misi:

Tiangong-1, Stasiun Luar Angkasa Pertama Cina

Massa:

8500 kg saat diluncurkan

Panjang:

10.5 m

Diameter:

3.4 m

Panel Surya:

2 panels (7 m x 3 m)

 

Tiangong-1 memiliki inklinasi orbit 43o sehingga seluruh daerah di Bumi mulai dari 43o LU hingga 43o LS memiliki peluang untuk kejatuhan satelit ini seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Satelit dikatakan mengalami re-entry jika telah melewati ketinggian dibawah 120 km. Dari ukuran dan massa Tiangong-1, diperkirakan akan ada bagian dari satelit tersebut yang akan tersisa hingga ke permukaan Bumi saat satelit tersebut terbakar memasuki lapisan atmosfer. Bagian yang kemungkinan besar tersisa adalah tangki bahan bakar sehingga sangat berbahaya jika disentuh langsung. Tangki bahan bakar tersebut kemungkinan masih mengandung Hidrazine yang merupakan bahan beracun dan bersifat korosif.

 

Gambar 2. Peta lintasan orbit Tiangong-1 (37820) selama 1 hari saat beredar mengelilingi Bumi yang ditunjukkan oleh garis berwarna putih.

 

Tiangong-1 dalam masa operasionalnya telah mengalami setidaknya 14 kali penyesuaian ketinggian dengan menaikkan kembali ketinggian menggunakan mesin roketnya. Penyesuaian ketinggian terakhir dilakukan pada 16 Desember 2015. Gambar 3 menunjukkan profil ketinggian Tiangong-1 sejak diluncurkan hingga tanggal 9 Maret 2018 menggunakan data elemen orbit Tiangong-1 milik NORAD Amerika Serikat (www.space-track.org).

 

Gambar 3. Profil ketinggian satelit Tiangong-1 (37820) menggunakan data elemen orbit tanggal 9 Maret 2018. Titik-titik merah merupakan prediksi perubahan ketinggian terhadap waktu hingga re-entry di ketinggian 100 km

 

Jatuhnya Tiangong-1 ini penting untuk dipantau mengingat ukurannya yang cukup besar dan benda bersangkutan tidak dapat dikendalikan lagi geraknya sehingga tidak dapat diarahkan ke mana jatuhnya. Selain itu, letak Indonesia yang memanjang di ekuator memberikan peluang relatif besar (dibandingkan kebanyakan negara lain) untuk kejatuhan satelit tersebut. Namun pada umumnya peluang terbesar jatuhnya benda antariksa adalah di lautan atau di daerah yang tidak berpenduduk. Untuk kasus Tiangong-1, daerah yang paling berpeluang kejatuhan benda ini adalah yang berlokasi di sekitar lintang 43 derajat sesuai dengan inklinasi benda seperti tampak pada Gambar 4. 

Gambar 4. Peta potensi lokasi re-entry Tiangong-1 yang dikaitkan dengan densitas populasi penduduk dan peluang tumbukannya terhadap permukaan Bumi (sumber: European Space Agency - ESA)

Berdasarkan data elemen orbit tanggal 26 Maret 2018 yang diperoleh dari Space-Track, diperkirakan bahwa Tiangong-1 akan mengalami re-entry sekitar tanggal 1 April 2018.  Prediksi ini masih dapat berubah berdasarkan aktivitas matahari dan geomagnet yang akan mempengaruhi kondisi kerapatan atmosfer yang dilalui satelit tersebut. Mengingat aktivitas matahari dan geomagnet sangat rendah, diperkirakan proses re-entry tersebut akan terjadi lebih lama daripada waktu yang telah diperkirakan sebelumnya. Untuk mengetahui aktivitas matahari dan geomagnet dapat dilihat pada tautan Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS).

Proses re-entry Tiangong-1 dapat diikuti di situs ini serta twitter @OrbsatLAPAN.

Track-It LAPAN telah menampilkan lintasan Tiangong-1 saat melintasi Indonesia di bawah ketinggian 200 km (sekitar 198km) dari arah Barat Daya ke Timur Laut pada tanggal 27 Maret 2018 sekitar pukul 00:00 WIB melewati Papua, sekitar pukul 02:00 WIB melewati NTB dan Sulawesi, dan sekitar pukul 03:00 WIB melewati Sumatera. Lintasan stasiun ruang angkasa ini diperkirakan akan tampil kembali malam ini setelah jam 11 WIB.

 

Versi awal tulisan ini dapat dibaca di Buletin Cuaca Antariksa Edisi Januari – Maret 2018